2 [Lost]
Seminggu, sebelum Jey melakukan penerbangan terakhir dari seoul ke gyeongju. Jey banyak sekali menghabiskan waktunya bersama dengan Jovan,
Jey sudah memikirkan dari jauh-jauh hari tentang keinginannya untuk berhenti menjadi seorang pilot. Jey juga belum pernah untuk sama sekali membahas keputusan perihal keinginannya ini kepada Jovan, sebab ia masih terlihat seperti maju mundur, karena merasa belum jelas. Ia pun memilih untuk diam.
Selama ini hubungan mereka menjadi suami istri sangat baik-baik saja, tidak ada masalah berat apapun yang menggangu kehidupan rumah tangga mereka. Karena Jovan sendiri selalu terbuka dengan Jey, begitupun dengan Jey kepada Jovan. Apapun yang mereka lakukan, selalu mereka bicarakan saat bersama baik secara langsung, ataupun melalui beberapa panggilan lewat ponsel masing-masing.
Jovan sendiri juga bukanlah suami yang suka mengekang atau mengatur istrinya agar selalu tetap berada di rumah, dia bukanlah pria kolot yang membiarkan istrinya wajib berada di rumah dan menunggunya pulang kerja.
Meski Jey dibiarkan untuk bekerja, ia tetap tidak melupakan tugasnya sebagai istri Jovan. Sebisa mungkin, Jey akan selalu membuat Jovan merasa kalau ia masih memiliki istri. Walau dunia kerja mereka berbeda, saat Jey tidak memiliki jadwal penerbangan, dia akan memilih untuk menemani suaminya entah di kantor, apartment atau tempat lainnya. Apapun akan Jey lakukan, agar supaya Jovan merasa tidak pernah terabaikan.
Pernah suatu hari Jey melakukan penerbangan, ketika Jovan sedang berulang tahun, hal itu membuatnya begitu sangat teramata sedih. Karena tidak bisa menemani Jovan di hari pentingnya Jovan, Jey lalu memilihkan waktu lain untuk menggantikan waktu yang tidak bisa bersama itu.
Jey berhasil mendapatkan waktu seminggu full untuk menemani Jovan kemanapun ia ingin pergi, sebab Jey merasa begitu bersalah. Jovan sendiri tidak ingin memaksa, tetapi Jey sangat bersikeras untuk membalas waktu penting yang terlewat itu.
Seminggu bersamanya, Jey selalu mengekori Jovan kemanapun, mengikuti ke kantor. Mengajaknya ke bioskop, menjaili Jovan. Memasak semua makanan kesukaan Jovan, bermain bersama. Piknik di dalam kamar bersama dengan Jovan, semua dilakukan oleh Jey.
Jovan merasa sangat bahagia, meski seminggu. Bagi Jovan hal itu merupakan rekor terlamanya bersama dengan Jey, bahkan berpikir untuk menjauh dari Jovan saja tak dilakukan Jey barang sedetik, hanya ke toilet saja yang tidak diikuti Jey.
Jey juga secara diam-diam telah berhasil mengurus pemberhentian kerjanya, dari dunia penerbangan. Dan saat setelah melakukan penerbangan terakhirnya, dia resmi untuk tidak bertugas lagi sebagai seorang pilot.
Namun Hal tersebut masih ia simpan secara rapat-rapat, sebelum Jey memutuskan untuk memberitahukan di malam terakhirnya kepada Jovan melalui pesan singkatnya. Karena Jey juga sudah tidak sabar untuk diketahui Jovan.
Malam dimana yang rencana awalanya Jey ingin pergi menemani Jovan ke acara pertemuan bisnis, seketika menjadi gagal. Saat Jey ditunjuk melakukan tugas akhirnya, ia yang sudah sangat bersiap dari pagi hari mendadak kembali menjadi murung seketika.
Jovan yang mengerti pun, tak ingin membuat suasana hati istrinya semakin sedih. Sebisa mungkin Jovan tetap kembali untuk meyakinkan Jey, supaya merasa tak berkecil hati ataupun menjadi sedih.
Merasa senang sebab di hibur oleh sang suami tercinta, membuat Jey sesaat kembali berpikir. Jey mendadak ingin menstyle penampilan Jovan, untuk pertemuan makan malam penting kali ini:
“Aku dandanin kamu aja gimana mas?, sebagai permintaan maaf dari aku, supaya nanti malam pas ketemu sama temen-temen kamu. Kamu jadi makin ganteng” tawar Jey.
“Terserah kamu aja, mas ikut apapun keputusan dari kamu” ucap Jovan.
Jey lalu mengajak Jovan untuk pergi berbelanja di mall, meski mereka tinggal mengangkat telfhone saja kemudian barang yang akan mereka pesan itu langsung diantarkan. Tetapi untuk kali ini Jey menolak, sebab ia ingin pergi bersama dengan Jovan.
Sebenarnya memakai jas biasa pun sudah terlihat cukup bagi Jovan, akan tetapi karena Jovan tak ingin membuat istri tercintanya merasa kecewa. Jovan rela membiarkan Jey melakukan apapun kepada dirinya sendiri, termasuk mendandaninya.
Setelah selesai berbelanja, dan memilih barang-barang untuk mempersiapkan penampilan Jovan pada nanti malam. Jovan dan Jey memilih terlebih dahulu untuk menghabiskan waktu mereka sebentar, sebelum kembali ke apartment.
Pulang dari jalan-jalan, Jey menyuruh Jovan untuk mandi dan segera bersiap-siap. Kemudian Jey mengeluarkan semua barang-barang belanjaan mereka berdua.
“Duduk sini mas” Jey meminta Jovan untuk duduk di kursi tempat ia sering berias.
Jovan lalu duduk mengikuti permintaan istrinya, selanjutnya Jey menghidupkan hair dryer miliknya dan langsung mengeringkan rambut Jovan. Jovan tentu menikmati perlakuan dari istrinya, sambil sesekali mereka berdua terlihat tertawa bersama.
Tak sampai disitu, Jey juga menempelkan masker sebentar di wajah Jovan.
“Apa ini sayang?” tanya Jovan.
“Masker, supaya kulit mas gak kelihatan kusam” jawab Jey.
Jey pun menempelkan masker di wajah Jovan, ia mengatur waktu beberapa menit. Setelah itu Jey melepaksan masker dari wajah Jovan.
“Seger kan mas” ucap Jey.
“Iya, pantesan kamu suka banget sama yang beginian sayang” balas Jovan.
Tak sampai disitu, Jey pun memberikan pijatan sebentar di wajah Jovan dengan lembut, setelah itu Jey kemudian memberikan baju yang akan dikenakan oleh Jovan malam ini.
“Pakai ini mas, bajunya udah aku rapihin lagi” Jey memberikan baju yang telah ia setrika kembali kepada Jovan. Jovan lalu mengambil dari tangan Jey dan langsung memakainya.
Jey memberikan sedikit sentuhan make up pada wajah Jovan, “Ngapain dikasih beginian sayang!” seru Jovan.
“Ini biar mata panda kamu nggak kelihatan mas, tuh kerja mulu sampai begadang bikin bawah mata kamu jadi hitam loh” balas Jey yang masih sibuk memberikan sedikit concealer pada bagian bawah mata Jovan.
Jovan hanya bisa pasrah, Jovan membiarkan Jey melakukan semua yang Jey sukai padanya. Jey sendiri terlihat begitu sangat bersemangat, saat mempersiapkan Jovan sebelum pergi melakukan acara makan malam bersama dengan rekan-rekan bisnisnya. Sudah selesai, Jey sendiri telah berhasil menciptakan hasil mahakaryanya untuk suaminya.
“Ganteng kan” ucap Jey sambil memperlihatkan hasil stylishnya di depan kaca.
“Emang suami kamu cakep, ya gimana lagi” balas Jovan.
Jey terkekeh mendengar ucapan dari suaminya, Jovan masih berdiri sambil sibuk melihat hasil penampilan yang dibuat Jey untuknya.
“Jangan dilihat terus sayang, nanti jadi terlambat loh mas” ucap Jey sambil memeluk Jovan dari belakang.
Jovan tersenyum kemudian lalu berbalik untuk menciumi Jey, Jey membalas ciuman dari Jovan. Tautan bibir di antara mereka berdua menjadi semakin sangat dalam, hingga Jey harus segera menyadarkan Jovan menghentikan kegiatan mereka.
“Mas, udah cukup. Nanti nggak jadi ketemuan sama rekan bisnis kamu” tutur Jey.
“Yah sayang, kan mas masih pengen cium kamu” ledek Jovan.
“Nanti aja, kalau sekarang yang ada nanti malah jadi kelepasan” ucap Jey.
Jovan kembali memeluk Jey, sebenarnya ia tidak masalah jika dia harus kehilangan salah satu proyek milyarannya. Akan tetapi, Jovan tak ingin jika Jey marah kepadanya. Sebab, Jey lah menjadi alasan untuk membatalkan pekerjaannya. Jey memeluk Jovan, ia membenamkan wajahnya dia dalam pelukan hangat Jovan.
“Mas pergi dulu sebentar, kamu tidurnya jangan kemalaman. Besok kan kamu flight pagi sayang” ucap Jovan setelah itu melepaskan pelukannya.
“Iya, kamu hati-hati. Jangan genit pas di acara” balas Jey sambil mempoutkan wajah gemasnya.
“Ngapain genit, orang aku udah punya istri sempurna seperti kamu” ucap Jovan sebentar.
Jey pergi menemani Jovan keluar dari kamar, ia mengantar Jovan sebentar kedepan. Sebelum Jovan beranjak pergi, Jey kembali memeluk tubuh suaminya. Jovan mengelus punggung Jey, membiarkan Jey memeluknya sekali lagi.
“Kamu kenapa sayang, apa mas nggak perlu pergi aja” tawar Jovan.
“Jangan, kamu pergi aja mas. Aku cuma pengen meluk kamu aja” balas Jey.
Jey lalu benar-benar melepaskan pelukannya dari Jovan, ia harus membiarkan Jovan pergi. Meski sebenarnya ia masih ingin sekali bersama dengan Jovan.
Jovan pun melangkah pergi, berjalan sampai bayangannya menghilang. Lalu Jey pun kembali masuk ke dalam apartment mereka, selama di dalam perjalanan hati Jovan juga merasa resah. Entah kenapa dia benar-benar tidak ingin pergi, tetapi karena Jey mengirimkan sebuah foto. Keresahan yang sesaat muncul di hatinya pun menghilang.