2



Jonathan berjalan dengan langkah tegas, semua para karyawan membungkuk memberi hormat kepada pemilik perusahaan. Tempat mereka berkerja,

Jonathan tak perduli dengan sapaan dari mereka, dia terus melangkah sembari menahan emosi yang sebentar lagi akan meledak.

Ingatkan bahwa semua pekerjanya hanya mampu membungkuk, dan tak ada yang berani menyapa. Sebab raut wajah Jonathan sangat buruk, dan penampilannya menyeramkan.

Jonathan masuk dan langsung membanting pintu ruangan dengan keras, dia bahkan tidak perduli jika pintu ruangan miliknya akan lepas.

Jonathan melangkah dan duduk di kursi pribadinya, dia kembali menarik dasi yang mengikat di lehernya.

Belum juga redah amarahnya, bunyi telfon yang berbunyi seketika menambah suasana amarah yang akan meluap.

. .

Brakhhh

Jonathan membanting telfon yang ada di meja, padahal telfon tersebut hanya benda mati yang kebetulan memiliki fungsi.

“Sial.”

Jonathan masih belum menerima, tindakan ataupun ucapan dari Jef.

Jef sangat berbeda, Jef mungkin tidak bisa melawan secara fisik pada Jonathan.

Akan tetapi, Jef masih mampu melawan dengan kata. Ataupun sikap, yang membuat Jonathan bisa dengan cepat menjadi marah.

Sekertaris yang bertugas pun, tak mampu untuk melangkah masuk. Dia dapat mendengar teriakan ataupun suara barang yang jatuh ke lantai.

Dua orang yang sedari tadi menunggu, akhirnya memutuskan untuk masuk saja.

Ceklekk

“MAU APA KALIAN?”

Ucapan Jonathan terhenti mana kala dia melihat sosok dua orang yang berdiri tepat di depan pintu ruangannya.

“lo kenapa lagi deh?.”

Pungkas salah satu sahabatnya, mereka berdua nampak berjalan santai ke sofa. Lalu segera duduk.

Yuda dan Tyo dua orang ini adalah sahabat terdekat Jonathan, masing-masing dari mereka memiliki bisnis yang terlihat ataupun tidak terlihat.

“Pasti gara-gara dia lagi kan!” Seru Tyo, yang sepertinya sudah hafal dengan gelagat dari Jonathan.

Jonathan yang tak ingin menanggapi, segera membuka laptop kerja miliknya.

“Jo, lo ngga ada niatan mau ngelepasin dia aja?.”

Yuda bertanya, namun pertanyaan darinya mengundang tatapan tajam dari Jonathan.

“Mending lo pergi dari sini.”

Tyo segera melerai, sebelum terjadi pertikaian antara dua sahabat itu. Tyo bahkan menyikut tubuh Yuda agar berhenti mengeluarkan kata yang dapat membuat emosi Jonathan kembali meledak.

“Hmm, Jon mending kita bahas bisnis baru kita.”

Jonathan lalu segera berdiri, dia pun mendekati kedua sahabatnya itu. Sebab mereka akan membahas perencanaan bisnis gelap mereka hari ini.