10


Jonas bangun dan langsung melompat dari atas tempat tidurnya, dia dengan cepat mengganti pakaian yang ia kenakan.

Hari ini Jonas terlambat bangun, tidak seperti hari biasanya. Dia karena semalam dia hanya sibuk memikirkan kenangannya, bersama mantan kekasih yaitu Chloe. Ketika mereka berdua masih berpacaran.

Jonas sangat terkenal dengan kedisiplinan-nya ketika ia sedang bekerja, dia bahkan tak akan segan-segan untuk menegur timnya, jika ada yang datang terlambat saat bekerja.

Jonas ingin seluruh tim yang berada di bawah pimpinannya agar supaya mereka selalu disiplin, mengingat pekerjaan mereka adalah seorang detektif.

Jonas tidak punya banyak waktu lagi, dia melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.

Cara perhitungan Jonas dalam mengendarai kendaraannya patut diberikan pujian, walau dalam keadaan kecepatan penuh tapi Jonas masih bisa untuk tetap berhati-hati.

image

Jonas kini telah tiba di kantor kepolisian, dia berlari masuk ke dalam kantor. Jonas melangkahkan kakinya ke ruang Tim Forensik bisa di lihat, bahwa saat ini kegaduhan sedang terjadi.

“Yohan, sabar. Jangan berantem.” ucap Teo yang sedang menahan Yohan dalam keadaan marah.

“LEPASIN GUE TEO, TIM FORENSIK EMANG TAIK. MEREKA YANG SALAH, MEREKA JUGA YANG NYOLOT.” balas Yohan yang berusaha melepaskan pelukan Teo.

Jonas saat ini sedang berdiri di depan pintu, sambil melihat kondisi kekacuan yang sedang terjadi.

Jonas melangkahkan kakinya untuk mendekat ke arah mereka semua, dia dengan tegas mengeluarkan suara bariton khas miliknya. “BERHENTI SEMUANYA.” teriak Jonas.

Seluruh bawahan detektif kepolisian maupun detektif forensik seketika terdiam, saat mendengar teriakan dari Jonas. Atraksi dorong-mendorong, serta adu mulut satu sama lain yang mereka lakukan sedari tadi langsung berhenti.

“Apa-apaan ini kalian semua.” ucap Jonas dengan tegas.

Melihat kedatangan Jonas, Teo dan Yohan beralih untik mendekat ke arahnya, Jonas melihat penampilan kedua sahabatnya itu yang sedikit berantakan.

“Explain to me, what is this?” tanya Jonas kepada kedua rekan timnya Teo dan Yohan.

Teo menarik nafas, dia harus menarik nafas yang dalam supaya bisa kembali normal. Akibat berusaha untuk mencegah Yohan, yang ingin memukul beberapa anggota tim forensik.

“Tim forensik, hilangin bukti utama kita. memori card yang seharusnya kita dapat dari mereka, malah di hilangin.” ucap Teo sambil berbisik kepada Jonas.

[Penjelasan Kasus]

Tim Jonas saat ini sedang menangani sebuah kasus pemerkosaan. Korban merupakan salah satu pegawai toko minimarket, yang diperkosa oleh pemilik toko.

Dia ingin melaporkan tindakan pelecehan yang dia alami, kepada polisi.

Sebelumnya korban sempat datang ke kantor polisi terlebih dahulu, tetapi saat itu dia merasa ketakutan.

Karena korban berpikir mungkin polisi tidak akan mempercayai ucapannya, sebab dia tidak mempunyai bukti.

Korban merasa bingung dan juga masih berdiri di depan kantor polisi, dia terkejut saat Jonas tiba-tiba datang menghampirinya.

Pada waktu itu Jonas kebetulan mampir ke kantor polisi, untuk membawakan laporan kasus yang tim mereka tangani. Saat tiba di kantor, dia melihat wanita tersebut yang sibuk mondar-mandir sambil menatap kedalam kantor.

Jonas sangat cepat untuk bisa membaca situasi, dia dapat mengerti. Bahwa wanita yang tengah berdiri di hadapannya ini sedang tidak baik-baik saja.

Jonas mencoba menggali dengan memberikan beberapa pertanyaan sederhana kepada korban, saat mendengar keterangan dari korban.

Membuat Jonas tentu sangat kaget, ketika mengetahui usia wanita tersebut.

Korban masih sangat muda, dia berumur 16 tahun. Jonas merasa marah dan juga sedih saat mendengar dari korban bahwa ia di perkosa oleh bos tempatnya bekerja.

Jonas sendiri yang mengarahkan kepada gadis remaja itu, untuk mencari alat bukti. Supaya pelaku bisa langsung di tangkap, mereka berdua bahkan saling bertukar nomor ponsel agar nanti Jonas bisa membantu dia saat urusannya selesai.

Mendengar arahan dari Jonas, membuat korban kemudian bergerak untuk mencuri bukti.

Korban berhasil mengambil barang bukti melalui rekaman cctv, yang dia rekam menggunakan ponselnya.

Pemilik toko memiliki ruangan khsusus untuk bisa melihat kondisi tokonya melalui cctv yang terpasang di dalam toko. Belum sempat dia memberikan bukti kepada Jonas.

Dia sudah lebih dulu tertangkap oleh Pelaku, diam-diam pelaku sering mengikuti korban untuk melihat pergerakan korban.

Pelaku ingin memastikan, apakah korban akan mengadukannya kepada kepolisian atau tidak, dan ternyata benar kecurigaan pelaku. Pelaku sendiri yang mengatur siasat untuk menjebak korban, supaya bisa ia singkirkan.

Korban yang tertangkap pun, langsung menelan memori card handphone miliknya ke dalam tubuh. Korban juga masih sempat mengirimkan pesan singkat, untuk meminta tolong kepada Jonas.

Jonas datang terlambat ke lokasi kejadian. Pelaku telah lebih dulu berhasil membunuh korban, dan meninggalkan korban di rumah pelaku.

Jonas menyesali perbuatannya yang telah mengajari korban, seharusnya Jonas sendiri yang turun tangan untuk membantu korban. Tetapi karena kesibukannya saat itu, dia membiarkan korban untuk bekerja sendirian.

Jonas sendirilah yang memutuskan untuk mengambil kasus pemerkosaan tersebut, sebagai bentuk rasa penyesalan-nya terhadap korban.

Dia ingin supaya pelaku kejahatan bisa membusuk di dalam penjara untuk selama-lamanya.

“Apa tim kalian sudah malas untuk bekerja? sampai alat bukti yang seharusnya kami dapat, jadi hilang begitu saja.” tutur Jonas yang sedang menahan amarahnya.

“Dasar bodoh, gue gak peduli. Kalau sampai barang buktinya gak kalian temuin besok. Lo semua bakalan tanggung akibatnya.” ucap Yohan yang masih kesal.

Seorang lelaki muncul dengan dua orang yang mengikutinya dari belakang. Dia memberikan tepuk tangan kepada Jonas, Teo, dan Yohan.

Semua orang yang berada di dalam ruangan pun, terkejut. Saat melihat kedatangan orang-orang itu.

“Kau dan tim-mu benar-benar menyebalkan Jonas.” ucap Steven.

“Jika kalian ingin sambutan hangat dari kami. Maka jangan pernah untuk bersikap menyebalkan Stev.” balas Jonas.

Dialah Steven ketua tim forensik, dia tiba di ruangan dengan Erlan dan Garvin. Mereka bertiga setim dan juga bersahabat.

Steven menarik jaket jeans milik Jonas, dan mengisi alat bukti ke dalam kantong saku Jonas.

“Ini alat bukti yang kalian cari, jadi kalian semua bisa berhenti untuk mengacak ruangan kami.” ucap Steven sambil menatap tajam Jonas.

“Perhatikan langkahmu Stev, jangan terlalu lancang mencampuri urusan kami. Cukup lakukan saja tugas kalian dengan benar, dan jangan pernah mencampuri tugas kami.” balas Jonas sambil mengeluarkan tatapan tajam elangnya untuk Steven.

Jonas lalu beranjak pergi untuk meninggalkan ruangan tim forensik, disusul dengan Teo, Yohan dan beberapa anak buah mereka, untuk segera kembali ke ruangan mereka.