1 [Lost]


Teriknya sinar matahari di siang hari membuat cahaya menjadi masuk menembus ke dalam kamar, Jovan yang sejak semalam tidur tanpa menggerakkan badannya sama sekali. Merasakan sensasi silau yang mengganggu jam tidurnya, hari ini adalah hari libur untuknya.

Tangan Jovan mulai meraba-raba sebentar, untuk mencari sesuatu terlebih dahulu. Ia meraih ponsel yang berada diatas meja kecil samping tempat tidur, dia pun melihat jam di layar ponselnya. Waktu menunjukan pukul 1 siang, pulang di jam 2 pagi dini hari membuatnya menjadi begitu sangat lelah. Ia terpaksa harus menghadiri salah satu acara pertemuan penting dengan beberapa rekan bisnisnya, semalam dia ingin kembali pulang ke apartment miliknya dan juga Jey. Tetapi karena satu dan lain hal, ia pun mengurungkan niatnya itu.

Istrinya Jey yang meminta kepada sang suami tercinta untuk tetap bertahan sebentar disana, melakukan pertemuan penting itu. Setelah membaca keputusan Jey yang ingin berhenti dari dunia penerbangan, membuatnya merasa begitu sangat bahagia. 3 tahun sudah Jovan telah membiarkan Jey memilih untuk bekerja sebagai seorang pilot pesawat, meski statusnya sudah menjadi seorang istri.

Jovan juga tidak ingin memaksakan kehendaknya, agar supaya Jey berhenti dari pekerjaan yang ia cintai itu setelah menikah dengannya. Sebab Jey telah menjadi pilot sebelum bertemu dengannya, kisah mereka berdua terbilang cukup unik.

Dimana ketika pada waktu itu Jovan merupakan salah satu dari penumpang yang akan Jey antarkan ke tempat tujuan, cuaca yang buruk membuat keberangkatan mereka menjadi tertunda.

Penundaan itulah yang membuat Jovan menjadi kesal dan memberi ucapan pedas kepada pilot maupun kru pesawat lainnya. Dan saat itu juga, Jey yang sedang berjalan melewatinya pun mendengar ucapan dari mulutnya Jovan. Merasa tak terima, Jey pun jadi saling beradu mulut dengan Jovan.

Dari situlah titik balik awal mereka menjadi pasangan suami istri, karena semenjak saat itu. Jovan langsung menaruh hati kepada Jey, setiap dia akan melakukan perjalanan bisnis. Jovan memilih mencari tahu terlebih dahulu jadwal penerbangan Jey, setelah itu langsung memilihnya.

Jovan benar-benar sangat mencintai Jey, apalagi setelah ia mengenal Jey semakin dalam. Membuat rasa ingin memiliki dari Jovan semakin tinggi, perkenalan mereka juga terbilang cukup singkat. Sebab Jovan adalah orang yang berbicara selalu ke inti, seperti perasaan sukanya. Jovan langsung mengutarakannya langsung kepada Jey, tanpa perlu memikirkan banyak hal.

Yang Jovan inginkan adalah Jey, setelah mereka berpacaran. Tak lama kemudian, Jovan lalu melamar Jey. Progresnya benar-benar cepat, dia bahkan tak memberikan tuntutan apapun kepada Jey. Sebab yang dia inginkan hanyalah cinta dari Jey.

Jey yang semula nampak ragu memilih untuk menerima Jovan. Sebab Jovan akan tetap membiarkannya bekerja mengikuti kesenangan hatinya. Merasa mendapat banyak dukungan dari Jovan, membuat Jey semakin yakin untuk memilih Jovan sebagai pasangan hidupnya.

Jovan kembali bangun dari pembaringan tempat tidurnya, setelah ia melihat pesan cinta dari istrinya. Mereka memiliki rumah, tetapi mereka berdua memutuskan untuk tinggal di sebuah Apartment, sebab dapat membantu Jey lebih mudah untuk bekerja. Jovan banyak berkorban untuk Jey, Jovan merasa sebagai suami ia harus selalu memberikan yang terbaik kepada istrinya.

Mandi adalah pilihan utama Jovan, sebelum ia memilih untuk menyantap sarapan yang dibuat istrinya. Meski makanan telah dingin, selesai mandi. Jovan beralih menggunakan pakaian, lalu dia keluar dari kamar. Menuju ke tempat makan.

Senyumnya merekah, saat melihat sarapan yang dibuat istrinya terlebih dahulu. Sebelum melakukan penerbangan, ia pun mendekat ke arah meja makan. Mengambil roti panggang yang berisikan isian potongan daging kesukaannya, dia memilih mengambil potongan roti itu dan duduk di ruang tv.


Jovan menghidupkan televisi, sebelum dia makan makanan buatan dari Jey untuknya. Jovan beralih mengambil kopi buatan istrinya yang ia lupakan sebentar tadi di atas meja. Rotinya pun sudah lebih dulu ia masukan ke dalam mulutnya, saat berjalan dan ingin kembali duduk.

Hati Jovan bergetar melihat dan mendengar siaran berita yang sedang tayang di televisi. Jovan mendekat, ia meletakkan minumannya dan mengeluarkan potongan roti dari mulutnya. Dia masih ingin memastikan dengan apa yang ia dengar dan lihat kini.

Jovan langsung berlari menuju ke dalam kamar tidur dan mengambil ponselnya kembali, ia membuka dan langsung menekan panggilan keluar. Deru nafasnya begitu memburu, kecepatan jantungnya menjadi tak stabil, tidak ada bunyi masuk sebuah panggilan.

Jovan masih terus mencoba, ia masih tak mau tetap tinggal diam, dia berlari keluar dari kamar tidur. Jovan masih berpikir bahwa jaringan bisa saja mengganggu panggilan telphone darinya untuk Jey, masih sama belum ada perubahan. Rambut basahnya pun kemudian di acak-acak Jovan, ia berusaha menekan rasa panik yang menjalar di sekujur tubuhnya.

“Angkat, please.., angkat, angkat Jey. Mas mohon sayang..” gumam Jovan yang terus berulang.

Belum berhasil juga, tidak ada deringan masuk yang berbunyi. Padahal seharusnya sedari tadi panggilan tersebut sudah bisa Jey terima, penerbangan yang dilakuan Jey hanya memakan waktu sekitar 2 jam lebih.

Teriak, Jovan berteriak dengan sangat kencang, dia benar-benar merasakan ketakutan saat ini. Dia tidak berani memikirkan kalau Jey telah pergi jauh darinya.

Jovan jatuh tertunduk lemas dikursi, matanya menjadi berair sambil mencoba terus melakukan panggilan dan mengirimkan berbagai macam pesan kepada istrinya., bayang-bayangan selama beberapa hari dari Jey, terlintas kembali di dalam ingatannya.