1
Jef harus menahan amarahnya di pagi hari, Jef yang belum tidur sejak semalam. Karena suara kebisingan yang dia rasakan terus berputar di dalam kepalanya.
Membuat sosok mungil itu tak bisa untuk tertidur, inilah resiko yang harus diterima.
Sudah seminggu ini, Jef tidak mengkonsumsi obat-obatan miliknya, yang telah diresepkan khusus oleh dokter Rian kepadanya.
Jef bergerak melangkah turun kebawah, jika Jonathan sudah memberi perintah padanya. Maka mustahil, Jef mampu menolak.
Jonathan merupakan pemilik mansion mewah, tempat saat ini Jef bernaung kini.
Rumah yang besar, memiliki banyak kamar dan tentunya fasilitas sukses membuat rumah tersebut semakin terlihat mewah.
Jef berjalan melewati para pelayan yang sibuk melakukan kegiatan mereka masing-masing, Jef harus menemui Jonathan di pagi hari ini.
. .
Jef berjalan dengan tenang menuju ke ruang makan, Jef bisa memandangi Jonatahan yang sedang duduk tepat di posisi yang tertinggi.
“Duduk..”
Jonathan memberikan perintah pada Jef, Jef sendiri lalu menarik kursi yang paling terdekat. Belum sempat mendaratkan pantatnya, Jonathan kembali membuka suara.
“Siapa bilang kau duduk disitu? duduk disini.”
Jonathan menunjuk salah satu kursi yang berdekatan dengannya, tidak mungkin Jonathan akan memulai percakapan dengan Jef. Jika posisi duduk mereka berdua saja, sangat berjauhan.
Jef pun bergerak, kursinya segera di tarik oleh salah satu pelayan di antara beberapa pelayan yang bertugas di ruang makan.
Jonathan masih dengan tatapan dinginnya, tanpa memandangi Jef.
Jef sepertinya terlihat biasa saja, sebab dia sudah terbiasa dengan tatapan yang dia lihat sehari-hari.
. .
Jonathan memulai makan paginya, dia mengiris potongan daging menggunakan pisau tajam, yang kini sedang digenggaminya.
Jef pun mengikuti Jonathan sarapan, roti lapis yang setiap pagi dia makan.
Jef mulai potongi agar menjadi beberapa bagian kecil, perlahan potongan kecil roti lapis dia masukan ke dalam mulutnya.
“Saya sudah katakan, agar kamu terus minum obat kamu. Kenapa tidak kamu lakukan?.”
Jonathan berbicara pada Jef sambil mengunyah makanan, dan tanpa dia melihat ke arah Jef. yang kini juga terlihat sibuk mengunyah
“Obatnya saya selalu minum.” “Jika obatnya kamu minum, kenapa semalam kamu seperti orang gila!.”
Jonathan menekan ucapannya pada Jef, lalu dia meletakkan garpu dan pisau kembali.
“Saya memang gila, karena saya gila makanya lebih baik tuan bebaskan orang gila ini.”
Jef berbicara sambil bersmirk tanpa melihat pada Jonathan yang terlihat menahan amarahnya.
“Saya maafkan kamu kali ini, jika kamu masih mengulangi hal yang sama. Maka jangan salahkan saya, jika hal kasar akan saya lakukan.”
“Baguslah, dengan begitu saya lebih mudah untuk mati.”
Jef kembali memasukan potongan roti kecil ke dalam mulutnya, berbeda dengan Jonathan yang langsung melempar gelas minum.
. .
Jonathan geram melihat aksi Jef yang mencelah omongannya, dia berdiri dengan kasar dari tempat duduknya.
Kuris mahal pun ikut terjatuh, Jonathan pun mendekat.
Jonathan mencondongkan posisi nya sedikit, Jonathan lalu kembali membuka mulutnya.
“Jika kamu melewatkan obatmu sekali saja, maka setiap maid yang ada disini akan saya hukum.”
Tubuh Jef tiba-tiba saja menegang, dia sangat membenci situasi seperti ini. Jef menelan makanannya secara kasar.
Jonathan kembali berdiri dengan posisi tegak, dia lalu memandangi semua pekerja yang ada di ruang makan.
“Pastikan agar dia tidak pernah melewatkan untuk meminum obatnya, jika ada yang terlewat maka kalian sendiri yang akan mendapatkan hukuman dariku.”
Jonathan segera melangkah pergi dari ruang makan, berbeda dengan Jef yang masih saja terdiam. dan beberapa wajah maid yang mulai panik mendengar titah sang bos besar.